|
13/08/2010 |
Sya’ban bulan pembersihan diri dari segala macam dosa, dosa kecil, besar, sengaja, atau tidak, terang atau samar. Momentum bersih diri. Momentum kembali kepada jati diri manusia yang dilahirkan bersih dan suci. Fitrah. Perjalanan hidup membawa manusia pada aneka pergulatan mencapai keinginan dan harapan yang “wajar”manakala tak terelakkan dari godaan dan dosa. Sya’ban member jalan menuju jiwa yang fitrah itu.
Sya’ban dilembagakan sebagai bulan tobat, dan evaluasi diri selama setahun, meski tobat dan evaluasi diri itu tidak harus dilakukan tiap tahun, namun Allah member waktu yang “khusus” untuk membuang noda-noda hitam yang melekat di pikiran dan hati kita. Pemberian waktu yang khusus memberi arti bahwa tobat itu wajib. “Hai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang semurni-murninya. (QS.At-Tahrim :8). “Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah,lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. Al-Hasyr : 19).
Imam Al-Ghazali membagi fasik menjadi dua macam : fasik kafir dan fasik fajir. Fasik kafir ialah orang yang tidak beriman kepada Allah dan RasulNya, keluar dari hidayah dan masuk ke dalam kesesatan. “…… maka ia mendurhakai perintah Tuhannya.” (QS.Al-Kahfi :50), yakni, keluar dari taat perintah pada Tuhannya dengan keimanannya (sehingga ia menjadi orang yang fasik dan kafir). Sedangkan fasik fajir ialah orang yang minum khamar, makan yang haram, berzina, melakukan kemaksiatan kepada Allah, keluar dari jalan ibadah dan masuk ke dalam kemaksiatan, tetapi tidak musyrik.
Perbedaan antara keduanya ialah, fasik kafir tidak dapat diharapkan untuk mendapat ampunan, kecuali dengan mengucapkan yahadat dan bertobat sebelum kematiannya. Sementara fasik fajir ialah orang fasik yang masih dapat diharapkan mendapatkan ampunan dengan jalan bertobat dan merasa menyesal atas kesalahannya sebelum kematian menjemputnya. Setiap kemaksiatan yang bersumber dari hawa nafsu dapat diharap ampunannya.1Sedangkan setiap kemaksiatan yang bersumber dari kesombongan , maka ia tidak dapat diharap pengampunannya.
Kemaksiatan iblis adalah berasal dari kesombongan. Sebagian ulama ketika ditanya : “apakah seorang hamba yang bertobat dapat mengerti apakah tobatnya itu diterima atau ditolak?” Dia menjawab : “Tidak ada kepastian mengenai hal itu, tetapi diterima atau tidaknya tobat itu dapat diketahui dari beberapa indikasi berikut ini : · Orang yang tobatnya diterima, dia mengetahui dan merasakan bahwa dirinya terpelihara dan selalu terhindar dari kemaksiatan. · Dia merasakan bahwa kegembiraan dan kesenangan akan kemaksiatan menjadi lenyap dari hatinya dan dia selalu merasa disaksikan oleh Allah. · Dia menjadi senang berdekatan dengan orang yang ahli melakukan kebaikan dan menjauhi orang yang fasik. · Dia melihat harta duniawi yang walaupun sedikit sebagai suatu yang banyak dan melihat amal akhirat yang begitu banyak sebagai sesuatu yang hanya sedikit. · Hatinya selalu sibuk dengan hal-hal yang difardhukan oleh Allah atasnya. · Dia menjadi orang yang senantiasa memelihara dan menjaga lidahnya. · Dia senantiasa berpikir dan melalukan perenungan, menyesali kesalahan dan dosa-dosa yang pernah dilakukan.
Dosa akan selalu nempel ke tubuh dan jiwa kita. Oleh sebab itu Islam melembagakan dalam ajarannya : membersihkan diri, mensucikan diri, yang bersifat kata kerja. Artinya mensucikan diri mencegah dosa dan maksiat, serta memohon ampun kepadaNya merupakan kewajiban kita, selama nyawa masih dikandung badan. (Sil) |
|